Tampilan
Bab 13 — Cita-Cita dan Pesan Generasi Mendatang
Pada akhir 2020 dan awal 2021, di rumahnya di kawasan Cilangkap Cipayung Jakarta Timur, Tedy Jusuf menulis bab- bab penutup dari memoarnya. Ia sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun. Kesehatannya, sebagaimana ia catat sendiri di halaman 341 memoarnya, sudah menurun. Pekerjaan-pekerjaan yang ia mulai dua dekade sebelumnya — pendirian PSMTI pada September 1998, kepemimpinan organisasi nasional selama sebelas tahun, pengelolaan Yayasan Taman Budaya Tionghoa Indonesia selama satu dekade berikutnya — sebagiannya sudah selesai, sebagiannya sudah berhasil pada tingkat yang dapat dilihat, dan sebagiannya belum tegak walaupun pembangunan sudah berjalan lima belas tahun. Di antara pencapaian dan ketakselesaian itu, Tedy memutuskan untuk menulis bab-bab penutup yang bukan bab kemenangan. Ia menulis bab tentang delapan cita-cita yang ia akui sendiri belum tercapai. Ia menulis pengulangan terhadap sepuluh kendala yang oleh para ahli yang ia kutip masih dianggap berdiri pada akhir dekade itu. Ia menulis ucapan terima kasih yang ditujukan tidak hanya kepada yang mendukungnya, tetapi juga, dengan kalimat yang dipisah secara sengaja, kepada yang tidak mendukungnya. Dan ia menulis sebuah doa untuk Indonesia dua puluh tahun ke depan — sebuah horizon waktu yang lebih panjang dari sisa hidup yang ia perhitungkan untuk dirinya sendiri.
Bab 13 ini adalah bab penutup yang menelusuri apa yang ditulis Tedy di bab-bab penutup itu. Strukturnya mengikuti empat suara yang Tedy gabungkan dalam catatan akhirnya: cita-cita yang belum tercapai, kendala yang masih ada, refleksi penulis tentang batas-batas pekerjaannya sendiri, dan pesan yang dialamatkan kepada generasi yang akan melanjutkan. Yang menjadikan keempat suara itu satu amanat, bukan empat lampiran, adalah satu klaim yang Tedy pertahankan secara konsisten di sepanjang bab-bab penutupnya: bahwa pekerjaan komunitas Tionghoa Indonesia untuk mendapat pengakuan setara sebagai salah satu suku bangsa Indonesia tidak berakhir pada generasi yang mendirikan PSMTI pada 1998, dan tidak berakhir pada generasi yang akan menjabat sebagai pengurus berikutnya. Yang Tedy serahkan kepada generasi mendatang bukan organisasi yang sudah selesai membangun apa yang harus dibangun; ia adalah organisasi yang sudah meletakkan fondasi dan yang menyerahkan pekerjaan struktur lanjutan kepada tangan yang lebih muda.
Delapan cita-cita yang belum tercapai
Pada bab tertentu memoarnya, Tedy mendaftar secara eksplisit delapan cita-cita yang menurut catatannya sendiri belum tercapai pada masa kepemimpinannya (MK#p338, MK#p339, MK#p340, MK#p341, MK#p342, MK#p343). Cita-cita itu didaftar berurutan, dengan format yang menempatkan masing-masing sebagai pekerjaan yang spesifik. Cita-cita pertama adalah yang paling pribadi dan yang luka historisnya paling lama: "Bersatu Kembali" antara PSMTI dan INTI dalam satu wadah organisasi nasional komunitas Tionghoa Indonesia. Tedy menulisnya dengan kalimat yang dimulai sebagai harapan dan diakhiri sebagai pengakuan: "mengharapkan dan mengan-angankan, kita masing-masing mau mundur selangkah dan maju kembali bersama dalam Satu Wadah, suatu Organisasi yang kompak bersatu" (MK#p339). Tetapi pada paragraf yang sama Tedy sendiri mengajukan keberatan terhadap harapannya sendiri: "Era Demokrasi, semua orang bebas berserikat... Organisasi Orang Tionghoa tidak perlu satu." Dan ia menutupnya dengan sesanti yang menempatkan harapan itu di dalam batasannya: "Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh — mudah diucapkan dan sulit diwujudkan!" Cita-cita pertama ini adalah pengakuan yang dimuat di Bab 6 sebelumnya bahwa perpecahan April 1999 adalah luka yang dua puluh satu tahun kemudian belum sembuh pada hari Tedy menulis halaman 339 memoarnya.
Cita-cita kedua adalah cita-cita yang sudah ditelusuri substantif di Bab 12: penyelesaian pembangunan TBTI di Taman Mini, dengan Gedung Utama dan Gedung Pertemuan yang belum berdiri pada catatan terakhir memoar. Kalimat pengakuan terbuka Tedy pada MK halaman 341 yang sudah dikutip di Bab 12 — "mungkin karena saya yang tidak mampu mencari dana yang diperlukan" — adalah kalimat yang berdiri dengan dua fungsi: di Bab 12 sebagai catatan kendala pendanaan struktural, dan di Bab 13 sebagai amanat yang ditransfer kepada generasi pengelola Yayasan PSMTI TBTI berikutnya untuk menyelesaikan apa yang generasi pendiri tidak mampu menyelesaikan. Cita-cita ke-2 itu adalah cita-cita yang secara material dapat diukur: sebuah gedung yang sudah digambar lengkap oleh PT Aryo Cipta Graha, yang gambar tampak sampingnya dimuat di memoar dengan keterangan "masih menanti Donatur." Yang dialihkan oleh kalimat pengakuan terbuka itu kepada generasi mendatang adalah pekerjaan finansial yang ukurannya jelas — yang berbeda dari cita-cita pertama yang ukurannya bergantung pada kerelaan dua organisasi yang sudah dua puluh tahun terpisah.
Empat cita-cita berikutnya — yang Tedy daftarkan sebagai butir tengah dari daftarnya — adalah cita-cita yang berkumpul menggambarkan satu visi tentang PSMTI sebagai infrastruktur layanan bagi anggotanya, bukan hanya organisasi advokasi. Cita-cita Web Digital keanggotaan PSMTI dengan benefit yang dapat diakses anggota — tiket pesawat, hotel, rumah sakit, diskon belanja — adalah usulan tentang pemodernan teknologis organisasi yang pada saat memoar ditulis sudah dimungkinkan oleh ketersediaan platform digital tetapi belum diimplementasikan oleh PSMTI sebagai sistem terpadu. Cita-cita Tim Sukses di tiap provinsi untuk membina anak muda Tionghoa memasuki Akademi Angkatan Bersenjata, Akademi Kepolisian, posisi Pegawai Sipil, dan pencalonan sebagai legislatif atau kepala daerah adalah usulan tentang partisipasi politik komunitas yang diteruskan secara struktural lewat organisasi, bukan hanya diserahkan kepada inisiatif individual. Cita-cita Sertifikat Nama Tionghoa dan Kartu Tanda Anggota digital adalah usulan yang sentralitas linguistiknya menarik: Tedy mencatat kekhawatirannya bahwa "anak-cucu kita yang namanya sendiri dalam Bahasa Mandarin juga tidak tau cara menulisnya," dan mengusulkan agar Sertifikat Nama Tionghoa diterbitkan sebagai sarana preservasi identitas linguistik untuk generasi yang sudah tumbuh tanpa pengajaran Mandarin yang sistematis (MK#p342).
Cita-cita ketujuh adalah cita-cita historis: pengusulan dua tokoh Tionghoa pada periode kolonial sebagai Pahlawan Nasional. Yang pertama adalah Kapiten Nie Hu Kong yang menjabat sebagai Kapiten komunitas Tionghoa Batavia pada 1740 dan yang memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda pada periode menjelang Pembantaian Batavia, yang setelah perlawanannya ditangkap, disiksa, dan dibuang ke Ambon hingga wafat di sana. Yang kedua adalah Sin She Sepanjang yang memimpin perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie pada 1740 sampai 1743 di wilayah Jawa Tengah (MK#p343, OT#p107). Catatan Tedy memuat satu detail komparatif yang penting: bahwa dua rekan Sin She Sepanjang dalam perlawanan yang sama — Raden Mas Said yang kemudian dikenal sebagai Mangkunegara I dan Pangeran Mangkubumi yang kemudian dikenal sebagai Hamengkubuwono I — sudah mendapat pengakuan formal sebagai Pahlawan Nasional melalui mekanisme negara. Asimetri pengakuan itu — bahwa rekan-rekan perjuangan dari latar Jawa diakui sementara rekan dari latar Tionghoa tidak — adalah asimetri historis yang cita-cita ketujuh ini berusaha untuk koreksi. Bab 11 sudah menelusuri penetapan Laksamana Muda John Lie sebagai Pahlawan Nasional pada 2009 sebagai presedent yang berhasil; cita-cita Tedy untuk Nie Hu Kong dan Sin She Sepanjang adalah perpanjangan dari preseden itu.
Cita-cita kedelapan, yang menutup daftar Tedy, adalah yang paling besar secara skala material: kepemilikan PSMTI atas sebuah jaringan fasilitas sosial yang mencakup Sekolah dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, Rumah Sakit dengan pelayanan pengobatan tradisional, Panti Asuhan untuk anak terlantar, Panti Jompo untuk orang tua terlantar, dan Sanggar Seni untuk pengajaran Kaligrafi, Tari, dan Lukisan (MK#p343). Universitas Internasional Batam yang sudah ditelusuri di Bab 7 adalah satu manifestasi konkret dari cita-cita di lapangan pendidikan, tetapi UIB Batam adalah manifestasi tunggal di satu kota; cita-cita kedelapan Tedy adalah jaringan yang multi-lokasi dan multi-fungsi. Skala finansial untuk membangun jaringan seperti itu adalah skala yang tidak dapat dijawab oleh satu generasi pendiri yang sekaligus mengelola pembangunan TBTI di Jakarta dan operasi organisasi nasional dengan seratus dua puluh delapan cabang. Cita-cita kedelapan, dengan kata lain, adalah cita-cita yang paling tegas memerlukan generasi mendatang untuk melanjutkan.
Sepuluh kendala yang diakui
Pada bagian yang berbeda dari buku kedua yang ditulis Tedy — Orang Tionghoa Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang struktur narasinya lebih analitis daripada memoar Menggapai Kesetaraan — terdapat satu daftar sepuluh kendala yang menurut catatan Tedy disusun berdasarkan analisa para ahli yang ia rujuk. Daftar itu, yang dimuat di halaman 234 dan 235 (OT#p234, OT#p235), adalah daftar yang fungsinya untuk Bab 13 ini adalah counter-balance terhadap delapan cita-cita yang sudah didaftar di bagian sebelumnya. Cita-cita memberi arah; kendala memberi batas. Yang menjadikan daftar ini berbeda dari daftar kesulitan yang biasa dimuat di akhir laporan organisasi adalah bahwa tiga dari sepuluh kendalanya adalah kritik diri — kendala yang menurut catatan Tedy ditimbulkan oleh perilaku oknum komunitas Tionghoa sendiri.
Kendala pertama adalah keberadaan kelompok dengan "mental perampok-penjarah yang selalu mencari kesempatan saat terjadi konflik atau kekacauan/kerusuhan" — sebuah catatan tentang pelaku kerusuhan profesional yang muncul pada periode- periode transisi politis dan yang menjadikan komunitas yang secara visual dapat dibedakan sebagai sasaran. Kendala kedua adalah kesenjangan sosial-ekonomi antara sebagian komunitas Tionghoa yang berhasil secara ekonomi dengan sebagian penduduk lain, yang menurut analisa ahli yang dirujuk Tedy menjadi pemicu kecemburuan struktural. Kendala ketiga adalah yang pertama dari kritik diri: "sikap arogan dan kurang jiwa sosial dari beberapa oknum orang Tionghoa sendiri" — catatan eksplisit bahwa perilaku sebagian anggota komunitas sendiri berkontribusi pada persepsi negatif yang menerpa seluruh komunitas. Kendala keempat adalah perbedaan agama sebagian komunitas Tionghoa dengan mayoritas penduduk Indonesia yang menurut analisa ahli menempatkan komunitas itu sebagai "golongan Non Muslim/kafir" dalam pembacaan yang lebih ekstrim. Kendala kelima adalah iri terhadap yang sukses — sebuah dinamika sosial-ekonomi yang juga muncul dalam komunitas-komunitas lain tetapi yang dalam konteks Tionghoa-Indonesia mempunyai sejarah panjang yang spesifik.
Kendala keenam adalah persepsi yang dirumuskan secara spesifik: "orang Tionghoa walaupun statusnya Warga Negara Indonesia, baik Aparatur Pemerintah maupun Masyarakat masih dianggap sebagai orang Asing." Pernyataan ini adalah pernyataan yang dua puluh tujuh tahun setelah dimulainya Reformasi tetap berlaku pada dokumentasi yang dirujuk Tedy pada 2020 — sebuah catatan tentang persistensi persepsi yang tidak terhapus oleh empat Instruksi Presiden yang sudah ditelusuri di Bab 5, Bab 9, dan Bab 11. Kendala ketujuh dan kedelapan adalah dua kritik diri berikutnya: bahwa sebagian orang Tionghoa "berbuat dan berkata-kata tidak patut pada pekerjanya" sehingga menimbulkan antipati; dan bahwa stigma "selalu mencari laba dan keuntungan, tidak memperhatikan kepentingan penduduk disekitarnya" sebagian dipicu oleh perilaku sebagian anggota komunitas yang memang demikian. Bahwa Tedy memuat ketiga kritik diri ini secara eksplisit dalam buku yang ia tulis untuk komunitasnya sendiri adalah pilihan yang tidak biasa untuk literatur komunitas; ia menempatkan tanggung jawab pada perilaku internal komunitas, bukan hanya pada sikap pihak luar.
Kendala kesembilan adalah aliran politik ekstrim yang berdasarkan klasifikasi agama, suku, atau golongan — dinamika yang muncul pada periode pasca-Reformasi sebagai bagian dari pluralisme politis tetapi yang dalam bentuk ekstrimnya menjadi ancaman terhadap pluralisme itu sendiri. Kendala kesepuluh adalah kendala yang berasal dari struktur organisasi komunitas Tionghoa sendiri: "organisasi Tionghoa yang masih berazaskan satu daerah leluhur" — yaitu organisasi yang identitas dasarnya adalah kabupaten atau provinsi spesifik di Tiongkok yang menjadi daerah asal migran historis. Bahwa organisasi-organisasi seperti itu masih dominan di kalangan komunitas Tionghoa Indonesia pada 2020 adalah catatan yang, dilihat dari sudut PSMTI yang dirancang sebagai organisasi nasional inklusif lintas-daerah-leluhur, adalah salah satu sumber struktural dari fragmentasi yang dapat menghambat konsolidasi nasional. Daftar Tedy menutup dengan catatan yang menarik dari sudut framing: "Kendala-kendala ini diyakini akan semakin berkurang seiring dengan waktu dan makin majunya Pendidikan dan Pemerataan kesejahteraan dan pendapatan pada masa-masa yang akan datang" (OT#p235). Penilaian penutup itu adalah penilaian yang menempatkan kendala-kendala yang baru saja didaftar bukan sebagai keadaan permanen melainkan sebagai keadaan yang sedang bergeser; perubahan yang diharapkan adalah perubahan struktural melalui pendidikan dan pemerataan, bukan perubahan retoris melalui kampanye atau kebijakan jangka pendek.
Refleksi seorang penulis memoar
Pada dua halaman terakhir dari Menggapai Kesetaraan, dan pada satu halaman penutup dari Orang Tionghoa Dalam NKRI, Tedy menulis bagian-bagian yang fungsinya adalah refleksi penulis tentang batas-batas pekerjaan yang baru saja diselesaikan. Bagian-bagian itu, dibaca bersama, membentuk sebuah pengakuan metodologis yang sejajar dengan apa yang sudah ditelusuri di Catatan Sumber pada awal buku ini. Catatan Sumber mengakui keterbatasan yang melekat pada sumber-sumber utama; bagian penutup memoar Tedy mengakui keterbatasan yang melekat pada penulisnya sendiri.
"Saya menulis buku ini sesuai apa yang terjadi, tidak bermaksud menilai apalagi memojokkan orang lain," demikian Tedy menulis pada bagian penutup memoarnya (MK#p345). Permintaan maafnya yang berikutnya adalah permintaan maaf yang spesifik tentang batas-batas dokumentasi: "mohon maaf kalau data berupa tempat, waktu tidak tercantum dengan akurat, karena sejak semula tidak siap untuk dibukukan." Pernyataan itu adalah pernyataan yang menempatkan memoar pada kategori dokumentasi yang ditulis dari ingatan yang dipersiapkan untuk publikasi pada periode setelah peristiwa yang ditulisnya — bukan dari catatan harian atau jurnal yang dipersiapkan secara sistematis pada saat peristiwa berlangsung. Yang dapat dipercaya dari memoar dengan karakter seperti itu adalah pola besar dan arc historis; yang harus dihedge adalah detail-detail spesifik yang dokumentasi pendukungnya tidak tersedia.
Permintaan maaf yang ketiga, yang ditujukan kepada anggota PSMTI dan pihak lain yang berinteraksi dengan Tedy selama sebelas tahun kepemimpinannya, adalah permintaan yang sifatnya personal: "pasti ada kata-kata sikap, tingkah laku saya yang kurang baik, kurang pantas selama saya memimpin PSMTI." Diikuti, sebagaimana sudah dikutip di Bab 11, dengan ucapan terima kasih yang dipisah secara sengaja kepada yang mendukung dan yang tidak mendukung. Bagian-bagian ini, yang oleh sebagian pembaca dapat dianggap sebagai konvensi penutup yang biasa untuk memoar tokoh organisasi, dalam konteks Bab 13 ini berfungsi sebagai penangkal hagiografi yang dibawa oleh sumber sendiri. Tedy tidak menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang sempurna; ia menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang menjalankan pekerjaannya dengan keterbatasan yang ia akui secara terbuka. Pembacaan yang fair tentang sebelas tahun kepemimpinannya dan satu dekade kerja yayasan setelahnya adalah pembacaan yang menampung pengakuan ini, bukan menafikannya.
Pada Orang Tionghoa Dalam NKRI, kata penutup pada halaman 242 (OT#p242) berfungsi sebagai pasangan reflektif dari ucapan terima kasih Menggapai Kesetaraan. Yang berbeda adalah arah doanya: doa OT bukan doa untuk komunitas Tionghoa secara spesifik, melainkan doa untuk bangsa Indonesia secara keseluruhan. "Semoga Tuhan Yang Maha Esa Memberkati Negara dan Bangsa Indonesia, terhindar dari bencana, marabahaya, konflik, kerusuhan dan peperangan." Doa itu, dimuat di kata penutup buku yang sebagiannya ditulis untuk merekam pengalaman komunitas Tionghoa Indonesia pasca-1998, adalah doa yang frame-nya tidak sempit-Tionghoa tetapi nasional. Yang akan dilanjutkan di bagian berikutnya, di mana pesan untuk generasi mendatang ditelusuri lebih substansial, adalah artikulasi yang lebih penuh dari frame nasional itu sebagai kerangka editorial yang melandasi keseluruhan amanat Bab 13.
Tongkat Estafet
Pada kata pengantar Menggapai Kesetaraan yang ditulis oleh Bapak Lim Wan Cin — yang juga dikenal sebagai John Ferdinan W. Lim, dan yang pada periode penulisan memoar menjabat sebagai Ketua Umum PSMTI sebagai pewaris kepemimpinan dari generasi pendiri — terdapat sebuah artikulasi tentang fungsi memoar Tedy yang berfungsi sebagai amanat eksplisit (MK#p5, MK#p6). Lim Wan Cin menulis bahwa buku Tedy "isian yang lengkap dan rinci tentang kejadian di berbagai era dan tempat... Masih ada cita-cita yang harus dicapai, masih ada harapan yang harus diwujudkan dan masih ada masa depan yang harus diperjuangkan." Tiga pernyataan berurutan itu — cita-cita yang harus dicapai, harapan yang harus diwujudkan, masa depan yang harus diperjuangkan — adalah formulasi yang menempatkan pekerjaan komunitas Tionghoa Indonesia bukan sebagai pekerjaan yang sudah selesai pada penulisan memoar, melainkan sebagai pekerjaan yang masih berlangsung.
Formulasi yang menyusul itu lebih spesifik tentang fungsi buku: "buku sejarah autentik ini tidak boleh berhenti sebagai lembaran kertas yang terjilid, tetapi harus menjadi buku yang hidup dimana pengalaman diwariskan untuk menjadi pembelajaran di dalam melanjutkan Tongkat Estafet." Frase Tongkat Estafet — sebuah metafora yang diambil dari lari sambung di mana satu pelari menyerahkan tongkat kepada pelari berikutnya untuk dilanjutkan ke garis finish — menempatkan memoar Tedy sebagai dokumen yang isi dan fungsinya berbeda dari monumen statis. Monumen statis akan berdiri sebagai catatan tentang masa lalu; Tongkat Estafet adalah dokumen yang fungsi pewarisannya menjadikannya alat untuk pekerjaan masa depan. Lim Wan Cin meneruskan: "buku ini harus dilanjutkan dari kertas menjadi kemasan milineal yang menarik bagi generasi muda dan akhirnya membentuk generasi muda Tionghoa yang siap mempertahankan, melanjutkan dan mengembangkan keberadaan suku Tionghoa Indonesia sebagai kekayaan Bangsa Indonesia yang hidup berdampingan secara setara, rukun dan damai" (MK#p6).
Klausa penutup formulasi Lim Wan Cin itu — bahwa generasi muda Tionghoa yang dibentuk oleh pewarisan ini adalah generasi yang "hidup berdampingan secara setara, rukun dan damai" dengan suku-suku bangsa Indonesia lain — adalah formulasi yang konvergen dengan rumusan Tedy sendiri di buku keduanya. Pada bagian curahan hati Orang Tionghoa Dalam NKRI halaman 3, Tedy menulis bahwa ia "terpanggil untuk menulis buku ini yang dirasakan penting untuk dibaca generasi yang lebih muda, agar memahami berbagai peristiwa yang telah terjadi" (OT#p3). Audiens yang Tedy bayangkan ketika ia menulis buku kedua itu adalah audiens generasi muda. Yang dialihkan kepada audiens itu adalah pemahaman historis tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi — peristiwa-peristiwa yang oleh Tedy didokumentasikan agar tidak terhapus dari ingatan kolektif komunitas pada saat generasi pelaku langsung sudah tidak ada lagi untuk menceritakannya.
Konvergensi dua suara — Lim Wan Cin pada kata pengantar memoar pertama dan Tedy pada curahan hati buku kedua — pada satu titik yang sama adalah konvergensi yang menempatkan audiens generasi mendatang sebagai pemegang mandat melanjutkan, bukan hanya sebagai pembaca yang mewarisi pengetahuan. Yang dialihkan dari generasi pendiri kepada generasi penerus, dalam formulasi yang konvergen itu, adalah pekerjaan yang belum selesai — delapan cita-cita yang Tedy daftar di MK bab-44, sepuluh kendala yang masih berdiri di OT bab-24, dan yang lebih dari itu: tanggung jawab untuk mendefinisikan apa yang menjadi pekerjaan komunitas Tionghoa Indonesia pada periode dua dekade mendatang yang berada di luar horizon perencanaan generasi pendiri.
Doa dua puluh tahun
Pada bagian akhir curahan hati Orang Tionghoa Dalam NKRI halaman 3, Tedy menulis sebuah doa yang horizon waktunya adalah dua puluh tahun ke depan dari titik penulisannya. "Kita berdoa pada Tuhan, semoga memberkati Bangsa Indonesia, pada Era 20 tahun mendatang akan menjadi Bangsa yang terkemuka dan setara dengan bangsa-bangsa yang lebih dulu maju di dunia. Amin" (OT#p3). Doa itu dimuat pada bagian pembuka buku kedua tetapi fungsinya, jika dibaca pada konteks Bab 13 ini, adalah fungsi penutup amanat keseluruhan: horizon dua puluh tahun ke depan dari 2020-2021 — yaitu sekitar 2040-2041 — adalah horizon yang lebih panjang dari sisa hidup yang Tedy perhitungkan untuk dirinya pada usia tujuh puluh tujuh tahun dengan kesehatan yang menurun. Yang ia doakan adalah pencapaian yang akan terwujud, jika terwujud, oleh generasi yang sebagiannya bahkan belum dewasa pada saat doa itu ditulis.
Doa itu juga adalah doa yang isinya tidak sempit pada komunitas Tionghoa Indonesia. Yang dimohonkan adalah berkat bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan, agar bangsa itu menjadi terkemuka dan setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Frame nasional itu konsisten dengan rumusan Tedy yang sudah dikutip di Bab 9 — bahwa PSMTI "ikut berkiprah dalam Arus Besar Pembangunan Bangsa Indonesia, tidak eksklusif masalah internal Tionghoa saja" (MK#p117) — dan dengan rumusan yang dikutip di Bab 12 bahwa TBTI berfungsi sebagai "sarana pembauran dan saling pengertian antar Suku Bangsa Indonesia" (MK#p197). Tiga rumusan dari tiga bab yang berbeda menunjuk ke arah yang sama: bahwa pekerjaan PSMTI yang ditelusuri di sepanjang buku ini adalah pekerjaan yang dijalankan sebagai bagian dari pekerjaan kebangsaan Indonesia yang lebih luas, dan bahwa pesan untuk generasi mendatang yang dialamatkan oleh Bab 13 ini adalah pesan yang mengasumsikan pelanjutan partisipasi itu — bukan penarikan diri ke dalam komunitas yang berdiri terpisah.
Pekerjaan yang belum selesai yang Tedy serahkan kepada generasi penerus dengan demikian bukan pekerjaan yang batasnya adalah pembangunan satu Gedung Utama di Bambu Apus atau penyatuan kembali dua organisasi yang dua puluh tahun terpisah. Batas pekerjaannya adalah batas yang dirumuskan oleh doa dua puluh tahun: bahwa bangsa Indonesia, dengan komunitas Tionghoa di dalamnya sebagai salah satu suku bangsanya, menjadi bangsa yang terkemuka dan setara dengan bangsa-bangsa lain. Dalam horizon sebesar itu, delapan cita-cita Tedy adalah delapan langkah spesifik yang dapat diambil oleh generasi yang melanjutkan; sepuluh kendala yang ia daftar adalah sepuluh keadaan yang harus dipantau dan dijawab; dan doa yang ia tulis adalah pernyataan tentang arah perjalanan yang lebih besar dari arah yang dapat diselesaikan oleh satu generasi pendiri.
Pada akhir bab penutupnya, Tedy menulis satu kalimat yang berfungsi sebagai serah-terima personal: "diharapkan sisa hidup ini dapat merampungkan tugas ini untuk dipersembahkan pada Negara dan Bangsa serta menjadi kebanggaan anak cucu kita semua" (MK#p341). Kalimat itu adalah kalimat seorang laki-laki tujuh puluh tujuh tahun yang mengakui bahwa pekerjaan yang ia mulai pada usia lima puluh empat tahun ketika ia mendirikan PSMTI pada September 1998 belum selesai pada saat ia menulis catatan terakhirnya. Yang ia harapkan untuk diselesaikan oleh sisa hidupnya adalah sebagian dari pekerjaan itu; sisanya — bagian terbesarnya jika horizon dua puluh tahun yang ia doakan dijadikan ukuran — adalah pekerjaan yang akan dilanjutkan oleh anak cucu yang dia sebut sebagai pemilik kebanggaan akhir dari hasilnya.
Buku ini, dengan kata lain, bukan buku yang ditulis untuk merayakan satu generasi pendiri yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia adalah buku yang menempatkan satu generasi pendiri pada konteks pekerjaan yang lebih panjang, dengan delapan cita-cita yang masih menunggu, sepuluh kendala yang masih berdiri, dan dua puluh tahun horizon doa yang melibatkan generasi yang akan membacanya. Tongkat Estafet sudah berada di tangan, kalimat Lim Wan Cin mengingatkan, dan kelanjutan lari itu adalah pekerjaan yang Bab 13 ini serahkan kepada pembaca yang membacanya pada periode-periode setelahnya.